KABAR BANTEN – Palang Merah Indonesia atau PMI Provinsi Banten mengirimkan bantuan untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Bantuan PMI Banten tersebut berupa pengiriman tiga tenaga kesehatan (nakes) serta obat-obatan seberat sekitar 130 kilogram. Tim kesehatan dijadwalkan berangkat dari Markas PMI Banten di Kalodran, Kota Serang, Kamis, 3 September 2026 pagi.

 

Ketua PMI Provinsi Banten mengatakan, pengiriman tenaga kesehatan tersebut merupakan bagian dari respons kemanusiaan PMI yang dikoordinasikan oleh PMI Pusat.

 

“Besok tim kesehatan PMI Banten akan diberangkatkan ke NTT, yaitu Kabupaten Ngada. Ini berdasarkan koordinasi dengan PMI Pusat,” ujar Ketua PMI Provinsi Banten usai seremonial pelepasan relawan ke NTT di Markas PMI Banten, Rabu, 2 September 2026.

 

Ia menjelaskan, terdapat delapan PMI provinsi yang mendapat penugasan dari PMI Pusat untuk membantu penanganan bencana gempa di Kabupaten Ngada.

 

Delapan provinsi tersebut yakni PMI Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Bali.

 

“nakes ini nanti akan bergabung di sana. Dari Banten besok pagi akan berangkat, tiga orang, terdiri dari satu dokter dan dua perawat,” katanya.

 

PMI Banten Bawa 130 Kg obat Tim kesehatan PMI Banten akan bertugas di lokasi terdampak gempa selama kurang lebih dua pekan, mulai 3 hingga 14 September 2026.

 

Selain memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak bencana, tiga nakes tersebut juga membawa obat-obatan yang dibutuhkan selama berada di lokasi.

 “Sudah disiapkan tadi saya tanya ke Bu Kepala Markas (Bu Embay), karena tentunya banyak obat-obatannya sehingga bagasinya harus diurus. Kurang lebih 130 kilogram obat yang dibawa ke sana,” tuturnya.

 

Menurut dia, keberadaan tenaga kesehatan dari luar daerah sangat dibutuhkan mengingat jumlah pengungsi akibat gempa di Kabupaten Ngada mencapai sekitar 5.000 orang.

Besarnya jumlah pengungsi membuat tenaga kesehatan setempat juga menghadapi kondisi yang tidak mudah. Sebagian tenaga kesehatan maupun keluarganya kemungkinan turut terdampak bencana sehingga membutuhkan dukungan tambahan.

 

“Karena kalau sudah 5.000 biasanya tenaga kesehatan setempat juga terdampak, atau keluarganya terdampak. Jadi kan enggak fokus bisa mengobati masyarakat. Biasanya dari luar yang didatangkan ke lokasi untuk mengobati,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak bencana tidak hanya pelayanan kesehatan, tetapi juga air bersih dan kebutuhan dasar lainnya.

 

Namun, untuk kebutuhan air bersih, penanganannya saat ini telah dilakukan oleh pemerintah pusat.

 

“Biasanya sudah dibagi-bagi tugas. Kalau PMI Provinsi Banten dimintanya untuk tenaga kesehatannya. Banyak hal yang biasanya ditangani PMI pusat,” katanya.

 

PMI Banten Aktifkan Program Sahabat PMI, Terkait dukungan pembiayaan untuk pengiriman relawan dan bantuan ke NTT, PMI Banten juga mengaktifkan program donasi Sahabat PMI.

 

Program tersebut menghimpun dukungan dari berbagai pihak, mulai dari perusahaan, perorangan hingga pengurus PMI.

 

“Kami punya dana ini dari Sahabat PMI yang kami pinjam dulu. Informasi dari PMI pusat nanti di-reimburse. Nanti akan kami kembalikan ke dana kas Sahabat PMI,” jelasnya.

 

Ia mengatakan, melalui program Sahabat PMI, para donatur dapat bersama-sama menentukan bentuk bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat yang terdampak bencana.

“Kita punya cadangan dana itu,” ucapnya.

 

Pengiriman tiga tenaga kesehatan dan 130 kilogram obat-obatan dari PMI Banten ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak gempa di Kabupaten Ngada, NTT.***

Diadaptasi dari Kabar Banten

Ditulis ulang oleh Humas PMI Banten